Silaturahmi Lebaran Berujung Ribut. Momen Lebaran identik dengan suasana penuh kebahagiaan, saling memaafkan, serta mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Namun demikian, tidak semua pertemuan berjalan harmonis. Sebuah peristiwa tragis di Sulawesi Selatan justru menunjukkan sisi lain dari perayaan Idulfitri, di mana silaturahmi berubah menjadi konflik berdarah.
Kasus ini menjadi sorotan publik setelah seorang pria di Kabupaten Pangkep nekat membacok kerabatnya sendiri saat momen silaturahmi Lebaran.
Selain itu, peristiwa tersebut mengejutkan masyarakat setempat. Oleh karena itu, kejadian ini menjadi peringatan bahwa emosi yang tidak terkendali dapat berujung pada tindakan fatal.
Kronologi Kejadian yang Menggemparkan Silaturahmi Lebaran Berujung Ribut

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Kampung Siloro, Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pelaku berinisial AA (56) langsung mendatangi rumah kerabatnya, MR (51), untuk bersilaturahmi Lebaran. Namun demikian, situasi tersebut tidak berlangsung lama. Selanjutnya, keduanya
Namun demikian, situasi tersebut tidak berlangsung lama. Selanjutnya, keduanya mengonsumsi minuman keras tradisional jenis ballo bersama di kolong rumah.
Pengaruh alkohol membuat percakapan menjadi tidak terkendali. Dalam kondisi tersebut, korban melontarkan ucapan yang menyinggung perasaan pelaku. Akibatnya, pelaku merasa tersinggung. Oleh karena itu, ia menganggap korban mengejeknya sebagai “tukang adu domba”.
Akibatnya, perasaan sakit hati itu semakin meningkat. Selanjutnya, emosi pelaku pun memuncak. Pelaku pulang ke rumahnya untuk mengambil parang, lalu kembali ke lokasi dan menyerang korban secara brutal.
Detik-Detik Pembacokan
Akibatnya, pelaku tidak memberikan banyak peringatan. Selanjutnya, ia langsung melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam. Korban mengalami beberapa luka serius akibat sabetan parang di berbagai bagian tubuh.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami:
- Luka robek di bagian kepala
- Luka di dada sebelah kiri
- Luka di punggung kanan atas
- Luka pada bagian tangan
Selanjutnya, petugas segera membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Oleh karena itu, korban mendapatkan penanganan medis dengan cepat.
Sementara itu, pihak kepolisian berhasil mengamankan pelaku. Oleh karena itu, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Faktor Pemicu Konflik
Kasus ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor memicu terjadinya konflik, antara lain:
- Konsumsi Minuman Keras. Salah satu faktor terbesar adalah pengaruh alkohol. Minuman keras dapat menurunkan kontrol diri dan meningkatkan agresivitas seseorang.
- Dalam kondisi sadar, seseorang mungkin mampu menahan emosi. Namun, ketika berada di bawah pengaruh alkohol, respon emosional bisa menjadi berlebihan. Kesalahpahaman Komunikasi
- Selain itu, ucapan bercanda kerap memicu tafsir berbeda. Oleh karena itu, kondisi ini semakin berisiko saat emosi tidak stabil. Dalam kasus ini, pelaku menilai ucapan korban sebagai penghinaan. Namun demikian, korban belum tentu bermaksud demikian.
- Konflik Lama yang Terpendam. Tidak menutup kemungkinan adanya konflik lama yang belum terselesaikan. Momen pertemuan saat Lebaran bisa menjadi pemicu munculnya kembali emosi yang terpendam.
- Kurangnya Pengendalian Emosi. Ketidakmampuan mengelola emosi menjadi faktor penting. Pelaku memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bukan komunikasi.
Dampak Sosial dari Peristiwa Ini
Selain itu, peristiwa ini berdampak pada korban dan pelaku. Oleh karena itu, lingkungan sekitar juga turut merasakan dampaknya.
- Trauma Keluarga. Keluarga besar yang seharusnya berkumpul dalam suasana bahagia justru harus menghadapi tragedi.
- Rasa Tidak Aman di Lingkungan. Kejadian kekerasan dalam lingkup keluarga bisa menimbulkan ketakutan di masyarakat sekitar.
- Rusaknya Nilai Silaturahmi. Lebaran yang seharusnya menjadi momen mempererat hubungan justru tercoreng oleh tindakan kekerasan.
Proses Hukum yang Dihadapi Pelaku
Setelah itu, pihak kepolisian langsung mengamankan pelaku. Oleh karena itu, proses hukum dapat segera dilakukan. Pihak kepolisian menjerat pelaku dengan pasal penganiayaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Akibatnya, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu, ia terancam hukuman penjara hingga 8 tahun. Proses hukum ini menjadi bentuk pertanggungjawaban atas tindakan kekerasan tersebut.
Fenomena Konflik Saat Lebaran
Kasus ini bukan satu-satunya. Setiap tahun, selalu ada laporan konflik keluarga saat Lebaran.
Beberapa penyebab umum konflik saat Lebaran:
- Pertanyaan sensitif (pekerjaan, jodoh, ekonomi)
- Perbedaan pendapat
- Masalah warisan
- Konsumsi alkohol
Momen kebersamaan dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Pentingnya Mengelola Emosi
Mengelola emosi menjadi kunci utama dalam mencegah konflik.
Beberapa cara yang bisa dilakukan:
- Menahan diri saat tersinggung
- Menghindari perdebatan sensitif
- Menjauh sejenak dari situasi panas
- Berkomunikasi dengan baik
Peran Keluarga dalam Mencegah Konflik
Keluarga memiliki peran penting dalam menjaga suasana tetap kondusif.
Langkah yang bisa dilakukan:
- Menciptakan suasana nyaman
- Menghindari topik sensitif
- Menjadi penengah saat terjadi konflik
Nilai Sejati Silaturahmi
Selain itu, silaturahmi bukan sekadar bertemu. Namun, silaturahmi juga mencakup hal-hal berikut:
- Saling memaafkan
- Menjaga hubungan baik
- Menghindari konflik
Peristiwa ini mengingatkan bahwa setiap orang harus menjalankan silaturahmi dengan hati yang bersih.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Dari kasus ini, terdapat beberapa pelajaran penting:
- Kendalikan emosi dalam situasi apapun
- Hindari konsumsi alkohol saat berkumpul keluarga
- Selesaikan konflik dengan komunikasi
- Hargai perasaan orang lain
Refleksi: Lebaran Bukan Sekadar Tradisi
Selain itu, Lebaran bukan hanya tentang tradisi. Namun, momen ini juga mengandung nilai kemanusiaan yang mendalam. Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa tanpa pengendalian diri, momen sakral pun bisa berubah menjadi tragedi.
BACA JUGA : Kasus Penyiraman Air Keras di Jakarta Pusat


Satu tanggapan untuk “Silaturahmi Lebaran Berujung Ribut, Pria Sulsel Bacok Kerabatnya”